Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Selamat datang di Spiritz Motivasi. Silahkan lihat-lihat.. Jangan lupa tinggalin komentarnya, juga isi buku tamunya. okeee. Terima kasih

Join The Community

Itu Bukan Masalahku

Seekor tikus panik melihat petani menyiapkan beberapa jebakan tikus di sawah. Ia begitu ketakutan dan segera bergegas mencari bantuan. Saat bertemu ayam ia bercerita. "Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada Ayam. "Wah itu bukan urusanku, mana aku tahu. Uruslah urusan masing-masing" jawab Ayam acuh. Tikus masih ketakutan ia datang menemui kambing. "Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada kambing. "Bukankah benda itu dinamakan 'jebakan tikus.' Jadi apa urusannya denganku. Kalau itu jebakan kambing baru aku boleh khawatir," jawab kambing seenaknya.
Tikus tetap ketakutan, tapi masih ada harapan, ia pergi menemui sapi. "Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?" tanyanya pada sapi. "Hah jebakan tikus. Itu benda yang kecil sekali, Tidak ada pengaruhnya buat aku. Kenapa aku harus pikirkan." jawab Sapi sinis. Tikus benar-benar sedih, nampaknya benar-benar tidak ada yang mempedulikannya. Apalagi memang ayam, kambing dan sapi adalah peliharaan pak tani, sedangkan dia adalah buruannya pak tani. Malam itu tikus tidur semalaman, ia tidak berani mencari makan karena takut terkena jebakan tikus.

Subuh dini hari ketika hari masih gelap, Pak tani dan istrinya sepeti biasa pergi ke sawah. Mereka juga melihat apa jebakan tikus yang dipasang sudah berhasil menangkap tikus. Karena subuh masih sangat gelap, tanpa sengaja istri Pak tani memegang jebakan tikus yang ternyata menjepit ular berbisa. Ular tersebut sempat mematok istri Pak tani hingga terkena racun berbisa. Istri Pak tani langsung di bawa ke dokter. Karena tak sanggup membayar dokter, pak tani menyembelih ayamnya dan menjual dagingnya untuk membayar biaya dokter. Ternyata perawatan dokter saja tidak cukup untuk mengatasi bisa yang berbahaya ini. Maka terpaksa pak tani membawa istrinya masuk ke rumah sakit. Uang muka masuk rumah sakit cukup mahal. Pak tani terpaksa menyembelih kambingnya dan menjual dagingya ke pasar untuk menutupi uang muka ke rumah sakit. Ternyata biaya perawatannya sangat mahal. Perlu perawatan khusus untuk mengatasinya. Pak tani akhirnya terpaksa menyembeli sapinya dan menjual dagingnya untuk membayar biaya perawatan. Begitulah akhir kisah jebakan tikus. Sapi, kambing dan ayam tidak pernah menduga jebakan tikus yang diacuhkannya justru membuat mereka disembelih lebih cepat.

Apa hikmahnya? Seringkali kita menganggap masalah orang lain bukan masalah kita. Masalah lingkungan bukan masalah kita. Padahal jika kita telusuri bisa jadi masalah tersebut akan mempengaruhi hidup kita juga, atau mungkin keluarga kita. Ada teman atau kerabat kita terlibat narkoba kita biarkan karena itu urusan dia sendiri. Tapi ternyata kita jadi korban karena barang-barang kita dicuri untuk membeli narkoba. Lebih buruk lagi anak kita ikut menjadi candu narkoba akibat perbuatannya. Kita membuang sampah sembarangan, akibatnya terjadi banjir yang salah satunya akibat sampah yang kita buang. Kalaupun kita tidak jadi korban banjirnya, kita jadi korban macetnya. Karena itu jangan terlalu mudah mengabaikan masalah, karena mungkin kita jadi korbannya.
Tetangga kita masuk masa pensiun, ada juga yang di PHK yang di karenakan perusahaannya bangkrut atupun merger atau krisis yang melanda Negeri tsb. Hal ini sudah bukan hal aneh lagi pasti berlaku pada setiap yang bekerja. Akan ada masanya berhenti entah karena pensiun, sakit, PHK, perusahaan bangkrut ataupun kematian. Seringkali kita abaikan kejadian tersebut. Seolah2 itu bukan urusan kita. Padahal cepat atau lambat hal tersebut akan menghampiri kita juga, sementara kebutuhan hidup tak jua berkurang ataupun semakin murah. Namun kenyataannya kita menutup mata hati dan telinga kita. Larut dalam zona nyaman. Sehingga mengabaikan kejadian tersebut yang akan menjadikan masa tua justru masih sibuk untuk bekerja. “Itu bukan urusan saya. Kalaupun iya, fikirkan nanti saja.”
Karena seringnya mengabaikan kejadian yang sering ada dan menganggap bukan urusan kita atau bagian dari kita, seringkali seseorang justru merasakan akibat buruknya lebih cepat.
Mari kita sama2 membuka mata hati dan telinga kita. Memahami yang mungkin bagi kita sekarang bukan hal yang mendesak namun pada intinya cepat atau lambat hal tersebut TERNYATA adalah hal yang akan kita alami. Lebih menyakitkan jika kita terlambat dalam menyikapinya.

Download file ini 

0 komentar:

Posting Komentar