Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Selamat datang di Spiritz Motivasi. Silahkan lihat-lihat.. Jangan lupa tinggalin komentarnya, juga isi buku tamunya. okeee. Terima kasih

Join The Community

Emas dan Loyang


Pada zaman dahulu hiduplah seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun. Lalu seorang pemuda datang dan bertanya kepada Zun-Nun, “Guru, mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya dan amat sederhana? Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun untuk banyak tujuan lain.”
Sang Sufi hanya tersenyum, ia lalu melepas cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata,“Anak muda, aku akan menjawab pertanyaanmu tetapi sebelumnya tolong lakukan satu hal untukku. Ambilah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Lalu, melihat cincin Sang Sufi yg kotor, pemuda tersebut pun mulai ragu kalau dia bisa menjualnya seharga satu keping emas. Meskipun begitu, pemuda tersebut bergegas ke pasar dan menawarkannya ke beberapa pedagang, baik ke penjual daging, penjual ikan, penjual sayur, dsb. Namun, tak satu pun dari mereka yg bersedia membelinya seharga satu keping emas. Tawaran tertinggi adalah hanya sebesar satu keping perak. Sang pemuda pun segera melaporkannya kepada Sang Sufi.
Sang Sufi pun hanya tersenyum dan berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas dibelakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberi penilaian.”
Pemuda itu pun langsung pergi ke Toko emas yg dimaksud. Ia pun kembali ke Sang Sufi dengan raut wajah yg berbeda dari sebelumnya sambil berkata, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak mengetahui nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.”
Kemudian, Sang Sufi pun tersenyum dan berkata lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu anak muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘pedagang sayur, pedang ikan, dan pedagang daging di pasar’ yang menilai demikian. Tidak bagi ‘pedagang emas’ . Emas dan permata dalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke dalam jiwa. Diperlukan kearifan utk menjenguknya dan tentu saja butuh proses yg tidak sebentar. Kita tidak bisa menilai hanya dari tutur kata dan sikap yg terlihat sekilas. Seringkali yang dikira ‘Emas’ ternyata’ Loyang’ dan yg terlihat seperti ‘Loyang’ padahal dialah ‘Emas’.

Download catatan ini hanya beberapa detik saja

0 komentar:

Posting Komentar